Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2016

Mengintip Kehebatan Sistem Pendidikan di Jepang


Sistem Pendidikan di Jepang


Jepang merupakan salah satu maestro di bidang pendidikan, keilmuwan, dan teknologi. Semua orang tentu akan mengakui hal itu. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana sih sistem pengajaran dan pendidikan di Jepang itu ??. Sebagai orang tua, sudah barang tentu Anda pasti tertarik untuk mengetahuinya. Maklumlah, setiap orang tua yang memiliki anak, tentunya berkeinginan agar anaknya kelak menjadi anak yang hebat. Begitupun juga dengan para pendidik serta pemerhati dunia pendidikan, tentunya juga sangat berkepentingan agar anak didik sebagai generasi penerus bangsa menjadi generasi yang lebih hebat daripada generasi yang ada sekarang ini. 

Berkaitan dengan hal ini, di sini akan kami sajikan artikel dari Musthafa Jumah, peminat kajian sejarah dan pendidikan, yang dibuat dalam bahasa Arab; di mana artikel ini berisi tentang kehebatan sistem pendidikan di Jepang yang patut untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan serta referensi dalam mengembangkan sistem pendidikan di lembaga tempat mengabdi. Disini akan disajikan bagian terpenting dan inti artikel itu bagi Anda.

Jikalau ada yang bertanya tentang perkalian 21×13 berapakah hasilnya? Saya yakin Anda atau anak didik Anda akan mampu menjawabnya dalam semenit atau kurang. Namun jikalau ditanya berapakah hasil 123 dibagi 321 ?? Pasti Anda butuh waktu lebih dari semenit untuk bisa menjawabnya dengan benar. Namun, tahukah Anda, bahwa anak-anak Jepang mampu menjawab pertanyaan tersebut hanya dalam hitungan detik saja. Usia mereka belum mencapai 5 tahun. Mereka belajar huruf bukan dengan hafalan, namun dengan gambar dan permainan.

Kenapa itu Bisa Terjadi?

Ini berpangkal dari metode pengajaran negara tersebut yang berpegang dengan kwalitas, bukan kwantitas. Disini, kami akan memaparkan sebuah contoh bagaimana hal tersebut terjadi di jam matematika di Jepang. Inilah sejumlah info dan pengetahuan mengenai pengajaran di Jepang dan sekolah-sekolahnya:
Jam pelajaran dimulai dengan salam ala Jepang yang biasanya dilakukan kepada sang Guru, yang kemudian diikuti dengan pertanyaan seputar cara penyelesaian (rumus) yang sebelumnya sudah dituliskan di papan tulis. Pada hari ini para siswa belajar bagaimana menyelesaikan perkalian yang terdiri dari beberapa pecahan.

Siswa pertama menyelesaikan soal yang diberikan dan mengangkat tangannya. Kemudian guru menghampirinya untuk melihat bagaimana ia menyelesaikan soal yang diberikan. Guru tersebut membuat lingkaran di kertasnya, yang berarti jawabannya benar. Siswa tadi berdiri dan menjauh dari tempat duduknya. Kemudian ada siswa lainnya yang sudah menyelesaikan soal yang diberikan gurunya. Hanya saja, kali ini siswa yang pertama tadi memainkan perannya, yaitu peran sebagai guru untuk memeriksa jawaban temannya.

Di samping itu, Matematika juga dianggap sebagai bagian dari bahasa. Hal ini berarti bahwa ketika seorang anak didik diberikan kepercayaan untuk berperan sebagai guru yang memeriksa jawaban teman--temannya, maka sang anak didik tersebut akan berusaha untuk menyampaikan hal-hal yang sudah dia pahami kepada rekan-rekannya sesuai dengan bahasa yang ia kuasai serta teman-temannya juga akan lebih mudah mencerna. Dengan demikian pemahaman tersebut akan mudah terpatri dalam ingatan mereka. Orang-orang Jepang mengatakan bahwa : "Jikalau Anda mengajarkan orang lain apa yang sudah Anda pelajari, maka Anda akan mengingat apa yang Anda ajarkan 90% nya."

Jikalau para Guru berdiri di hadapan papan tulis hanya sekadar untuk menunaikan kewajiban mereka, pastinya tidak ada telinga yang akan mendengarkannya. Para siswa hanya akan mendapatkan sedikit saja. Oleh karena itu, positif memang jikalau Anda membuat mereka saling berpacu dalam menyelesaikan persoalan, kemudian sebagiannya berusaha untuk mengajarkan kepada sebagian lainnya. Hal yang paling penting adalah Anda memberikan mereka sedikit waktu untuk relaks, dan Anda harus membuat mereka termotivasi dan rajin sepanjang waktu.

Berkaitan dengan Bahasa.
Di seluruh dunia, biasanya anak-anak belajar antara 26-33 huruf. Apakah Anda tahu berapa banyak huruf yang dibutuhkan oleh orang-orang Jepang agar mereka bisa membaca dan menulis? Tentunya, lebih dari 26 huruf. Para penanggungjawab pendidikan paham betapa sulit membantu anak-anak mereka untuk mempelajari semua huruf itu, serta betapa sulitnya untuk menggunakannya dalam bahasa tulisan dan lisan. Bagaimanapun, dengan kemampuan yang hebat dalam hal pengajaran, ketika mereka lulus dari sekolah dasar, mereka sudah menjadi anak-anak yang paham dengan huruf Jepang (Kanji 1006).

Ketika mereka mencapai usia 15 tahun, yaitu ketika selesai dari pendidikan wajib, mereka akan mengetahui 1130 huruf tambahan lainnya. Bagi orang-orang Jepang, Katakana dan Hiragana adalah kumpulan tulisan audio. Keduanya adalah Kanji. Selain itu, setiap kumpulan tadi memiliki 46 huruf sebagai potongan-potongan lafal yang terikat dengan titik-titik tertentu, yang digunakan untuk menentukan perubahan-perubahan suara aslinya. Huruf-huruf itu dianggap cukup untuk mengungkapkan semua suara dalam Bahasa Jepang kontemporer.

Apa yang Membuat Sistem Pendidikan Jepang Begitu Istimewa?

Sistem pendidikan, bagi Jepang, dianggap sebagai sebagai kehormatan Nasional bagi negara tersebut, yang dianggap sebagai metode peradaban yang membantu para siswa Jepang untuk berprestasi menghadapi rival mereka dari semua penjuru dunia. Sistem pendidikan Jepang terdiri dari:
  • 6 Tahun di Sekolah Dasar
  • 3 Tahun di Sekolah Menengah Pertama
  • 3 Tahun di Sekolah Menengah Atas
  • 4 Tahun di Universitas

Masa pendidikan wajib itu (The gimukyoiku) selama 9 tahun; 6 tahun di sekolah dasar (shougakkou), dan 3 tahun di sekolah menengah pertama (chuugakkou). Sesuai dengan sistem pendidikan mereka yang bagus sekali, semua mendapatkan di pendidikan wajib, dan tidak ada satupun warganya yang buta huruf (0%). Walaupun Sekolah Menengah Atas (koukou) tidak wajib, akan tetapi tingkat pendaftaran di sekolah Menengah Atas tetap mencapai 96% di wilayah pedesaan, dan 100% di wilayah perkotaan.

Bagaimana Proses Pendidikan Sekolah-Sekolah di Jepang?

Sebagian besar sekolah-sekolah di Jepang menggunakan sistem 3 tahun, yang dimulai tahun ajaran baru di awal setiap bulan April. Selain tahun-tahun pertama di Sekolah Dasar, sekolah Menengah belajar setiap harinya dalam seminggu selama 6 jam, yang bisa dianggap sebagai salah satu masa belajar paling lama di dunia.
Setelah selesai sekolah, anak-anak wajib mengerjakan Tugas Rumah lainnya untuk mengisi waktu mereka. Liburan musim panas berlangsung selama 6 minggu, kemudian 2 minggu untuk liburan musim dingin dan musim semi. Selama liburan, ada sejumlah Tugas Rumah yang harus diselesaikan.
Setiap tahapan umur, ada kelas tertentu yang anak-anak diajarkan untuk semua materi, selain latihan-latihan praktis. Di sekolah Dasar, sebagian besar waktu digunakan oleh Guru untuk mengajarkan semua materi di semua kelas. Biasanya, jumlah siswa di setiap kelasnya tidak lebih dari 40 orang. Namun, setelah jumlah penduduk semakin banyak, jumlah siswa setiap kelasnya sekarang menjadi 50 siswa.

Apa yang Dipelajari Anak-Anak di Sekolah-Sekolah Jepang?

Para siswa belajar sejumlah materi yang mencakup Bahasa Jepang, Matematika, ilmu dan studi sosial, musik, industri, ilmu-ilmu tubuh dan ekonomi rumahan (seperti memasak dan menjahit). Sebagian besar sekolah sudah mulai mengajar bahasa Inggris di sekolah Dasar. Teknologi Informasi sudah menjadi perkara penting untuk kemajuan pengajaran. Sebagian besar sekolah memiliki kemampuan untuk terhubung dengan internet.
Para siswa belajar seni-seni Jepang juga, seperti Haiku (seni menulis) dan Shodo, yang mengharuskan pencelupan kuas ke dalam tinta dan menggunakannya untuk menulis Kanji, kemudian juga Kana dengan bentuk seni.
Haiku dianggap sebagai salah satu syair yang sudah berkembang di Jepang semenjak 400 tahun, yang memiliki 17 potongan lafadz untuk setiap bait syairnya, yang membentuk 3 satuan syair, yaitu 5, 7, 5 potongan lafal. Ia menggunakan berbagai bentuk ungkapan sederhana untuk mengungkapkan perasaan terdalam pembaca.

Info-Info Seputar Pendidikan di Jepang

  1. Sebagian besar sekolah Menengah di Jepang meminta para siswanya untuk memakai pakai seragam (Seifuku)
  2. Di sekolah dasar dan sekolah menengah umum pertama, diberikan sejumlah menu pokok (kyuushoku) yang dikonsumsi di kelas. Dengan metode ini, para siswa dan guru mendapatkan moment terbaik untuk saling memperkuat hubungan diantara mereka, yaitu ketika makan.
  3. Para siswa tidak lari meninggalkan jam-jam pelajaran di Jepang, dan mereka tidak telat sampai di sekolah.
  4. Para siswa di Jepang merasa benar-benar bahagia (85% di antara mereka)
  5. 91% diantara para siswa sama sekali tidak cuek dengan yang dijelaskan guru mereka.
  6. Para Guru sama sekali tidak perlu menunggu lama agar para siswa siap menerima pelajaran.
  7. Para siswa menghabiskan sekitar 235 menit setiap minggunya untuk jam matematika, dan mereka menghabiskan sedikit waktu saja untuk bahasa dan ilmu lainnya.
  8. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak dianggap sebagai sesuatu yang paling penting di Jepang. Penelitian mendapati bahwa para siswa yang mengikuti pelajaran di Taman Kanak-Kanak cenderung mampu memberikan sesuatu yang lebih baik di usia 15 tahun dibandingkan dengan teman-teman mereka. Tidak mengherankan jikalau 99 % dari anak-anak Jepang ikut belajar di Taman Kanak-Kanak.
sumber : Musthafa Jumah, peminat kajian sejarah dan pendidikan

Senin, 16 Mei 2016

Oemar Bakri dan Surga yang Selalu Dirindukan


Sebuah Potret Profesi Guru : Antara riwayat, kenyataan dan harapan

Sahabat Alfata


Di era delapan puluhan, ada dua perasaan yang muncul saat melihat sosok para guru kita ketika kita masih duduk di bangku sekolah; yaitu perasaan kagum dan hormat. Kagum akan  luasnya wawasan mereka dan hormat karena begitu  berwibawanya mereka.  Dan hingga detik ini perasaan itu tetap sama, tak berubah sedikitpun. Hati kita tetap tergetar ketika kenangan tentang mereka melintas di pikiran kita. Sungguh sangat menakjubkan manakala para pahlawan tanpa jasa itu bisa menorehkan perasaan begitu dalam di hati seseorang; bahkan setelah sekian puluh tahun telah berlalu.  Entah mantra apa yang mereka miliki sehingga mereka bisa melakukannya. 

Terkadang terlintas dalam benak nan  usil ini, bahwa para guru kita pada waktu itu mungkin pada pintar ilmu pelet ataupun ilmu pengasihan yang sangat ampuh sehingga mereka mampu memberikan pesona yang tak kunjung pudar bagi siswa-siswinya selama berpuluh-puluh tahun. Atau mungkin sebelum menjadi seorang guru, mereka pada bertapa di gua-gua untuk mempelajari ajian “Serat Jiwa” dari seorang pendekar yang bernama Eyang Astagina dan diturunkan pada Brama Kumbara sampai pada tingkat 10 (Ingat Serial Sandiwara Radio yang sangat populer di era 80-an), sehingga mereka sangat piawai dalam “meluluh-lantakkan” jiwa anak didiknya sedemikian rupa serta dengan segenap kesaktian yang dimilikinya mampu menorehkan nilai-nilai keluhuran dan prestasi kepada setiap anak-didiknya.

Tapi apakah itu jawabannya ???? 
Ah, ternyata tidak demikian adanya......

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tahun 1981, seorang penyanyi yang bernama Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal dengan nama Iwan Fals menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Guru Oemar Bakri”.  Lagu ini begitu fenomenal karena berhasil menggambarkan potret guru saat itu, sederhana, tidak sejahtera, lugu namun mampu mencetak banyak generasi sekelas BJ Habibie dan secara tidak langsung  menyindir  ketidak -pedulian pemerintah yang sedang berkuasa saat itu dan masa-masa sebelumnya.

Seperti kita ketahui bersama pula bahwa sebelum era 80-an ini, menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang memprihatinkan, menyedihkan tidak menjanjikan serta harus siap hidup seadanya. Meskipun profesi  guru begitu mulia , namun ia bagaikan surga yang tak dirindukan dan hanya dipandang sebelah mata. Berbanding terbalik dengan profesi-profesi lainnya; misalnya profesi dokter yang membuat orang berlomba-lomba dan bersedia untuk membayar berapapun untuk bisa kuliah di jurusan kedokteran.

Seseorang yang pada saat itu bersekolah di lembaga keguruan (SPG /PGA) ataupun kuliah di Fakultas Keguruan, hampir bisa dipastikan dari awal mereka telah memiliki kesadaran bahwa menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan nurani, sehingga ketika mereka benar-benar menjadi seorang guru, mereka menjalani profesi tersebut dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih. Walhasil, pada akhirnya pengabdian dan kerja keras serta ketulusan mereka benar-benar terpatri di hati anak-didik mereka. Keikhlasan dan ketulusan inilah yang menjadi kunci utama keberhasilan para Pahlawan tanpa Tanda Jasa dalam mengukir prestasi serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada setiap murid-muridnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, profesi guru akhirnya tidak lagi dipandang sebelah mata. Profesi ini mulai dianggap menjanjikan dan  mulai banyak yang mengincarnya. Profesi yang dianggap ideal bagi kaum perempuan karena kegiatan belajar hanya sampai tengah hari dan setelah itu bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Profesi yang sempurna. Secara perlahan namun pasti, profesi ini menjadi harapan dan keinginan banyak orang serta sekaligus menjadi “Surga” yang mulai dirindukan. 

Dalam perkembangan berikutnya, pada saat profesi “Oemar Bakri” ini mulai menjadi surga yang dirndukan oleh banyak orang; pada saat yang sama,  saat ini menjadi guru bagai  kembali ke periode sebelumnya dimana ia menjadi surga yang tak dirindukan. 

Hal ini disebabkan oleh beberapa hal; diantaranya :

Pertama 

Keberadaan pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Anak yang berbunyi “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan  berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera”.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan UU tersebut maupun bunyi pasal 3, niat dan tujuannya baik yaitu untuk melindungi setiap anak Indonesia. Namun mungkin penafsirannya yang terlalu luas yang membuat guru menjadi serba salah dan serba terbatas dalam mengkoreksi kesalahan  siswa yang dianggap sudah melebihi bata kewajaran. Guru sekarang harus sangat berhati hati dalam menghadapi siswa karena sedikit saja menyentuh tubuh siswa bisa dianggap melanggar pasal 3 ini. Padahal guru juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dalam menjaga emosinya yang terkadang reflex menyentil atau mencubit siswa, dengan niat tidak untuk menyakiti,  dan hal ini bisa berujung pada pelaporan kekerasan.  

Hal ini membuat guru kadang menjadi acuh bahkan bersikap masa bodoh dengan sikap siswa yang bermasalah karena untuk menghindari terpancingnya emosi yang berimbas pada masalah yang lebih besar. Akibatnya, siswa merasa benar sendiri karena sikapnya tidak dikoreksi oleh guru mereka. Mereka tahu betul bahwa hak mereka dilindungi oleh UU perlindungan anak. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi manakala orang tua mereka ataupun pihak-pihak lain memanfaatkan UU ini untuk membela dan memanjakan anak-anak mereka.  

Mereka sama sekali tak mau tahu bahwa dalam UU yang sama pada pasal 19 juga disebutkan bahwa setiap anak juga memiliki kewajiban untuk menhormati orang tua, wali dan guru. Seharusnya mereka juga menyadari bahwa selain hak mereka yang dilindungi ,mereka juga memiliki kewajiban untuk menghormati guru.  Seandainya mereka mengetahui dan mengamalkannya niscaya akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan murid.

Namun pada prakteknya, mereka hanya mengedepankan hak mereka dan lupa bahwa guru di mata agama dan hukum memiliki  posisi setara dengan orang tua mereka.

Kedua, 

Guru zaman sekarang adalah guru yang menghadapi generasi manja. Generasi yang dibesarkan oleh teknologi canggih dimana segala sesuatunya bisa didapatkan secara instant dan mudah, sehingga mereka kurang memahami makna perjuangan dan kesabaran. No pain no gain. Generasi yang dapat mengakses informasi seluas-luasnya; bahkan informasi yang belum tentu  sesuai untuk usia mereka. Generasi yang memiliki banyak distraksi yang membuat mereka sulit untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Eksistensi  dan penampilan menjadi begitu penting dan utama bagi mereka. Update status di media sosial  menjadi ritual harian mereka.  Bayangkan berapa kali mereka harus mengupdate status mereka dalam kesehariannya. Lalu kapan mereka bisa fokus pada pelajaran ? Walaupun tentu saja pasti ada manfaat yang bisa didapatkan  melalui teknologi informasi ini, namun apabila orang tua tidak mau ikut bagian dalam kontrol dan pengawasan, sudah barang tentu lebih banyak menimbulkan kerugian. Belum lagi kalau ditambah dengan berbagai program tayangan televisi yang hanya mementingkan sisi komersil tanpa mempedulikan nasib generasi bangsa.

Dengan kata lain, mendidik generasi sekarang jauh lebih kompleks dan menghadapi tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para guru yang mendidik generasi sebelumnya. Begitu kompleksnya permasalahan diluar sana yang membuat siswa menjadi pribadi yang lebih rumit dan sulit untuk dihadapi harus disikapi dengan bijak dan hati hati. Guru harus mampu menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi teman siswa yang bisa memahami kehidupan mereka. Hal ini tidak mudah karena seringkali disaat kita ingin mencoba menjadi teman mereka, mereka cenderung lupa batasan apa yang boleh dilakukan dan tidak. Guru lah yang harus selalu mengingatkan, akrab tapi tetap santun. Guru  juga harus berusaha menjadikan sekolah sebagai rumah kedua siswa  yang nyaman dan menciptakan proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan dirindukan oleh siswa adalah sebuah tantangan tersendiri.

Meskipun fakta yang ada sudah sedemikian kompleksnya, akan tetapi optimisme dan harapan itu haruslah selalu ada. Apa yang sedang dilakukan dan perjuangkan oleh para guru  pada saat sekarang ini memang tidak langsung nampak hasilnya. Saat ini para pendidik kita sedang melukis wajah pendidikan Indonesia yang baru  akan terlihat 10 atau 20 tahun mendatang.

Mengutip kata-kata bijak yang berbunyi : 
“Kalau bukan karena guruku, niscaya aku tak akan kenal dengan tuhanku"
”Saat melihat muridmu menjengkelkan dan melelahkan, maka hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik tanganmu menuju surga”.

Maka, tetaplah semangat dan tulus ikhlas dalam mendidik wahai Bapak dan Ibu Guru.  Meskipun tantangan sekarang ini semakin berat, namun yakinlah bahwa semakin banyak upaya yang Anda perjuangkan dalam mempersiapkan generasi emas di masa yang akan datang, akan semakin bertambah peluang Anda untuk menuju ke surga.

Sampai kapanpun menjadi seorang guru merupakan profesi yang akan menghantarkan kita ke surga yang selalu dirindukan.

Semoga ............




Selasa, 05 Januari 2016

Antara Penulisan Allah atau Alloh : Sebuah Kajian

Bismillahirohmanirrohim

Sahabat Al Falah

Setelah admin memposting tentang Beberapa Gelar Sarjana dan Cara Penulisan yang Benar Menurut EYD, ada beberapa pertanyaan yang masuk mengenai penulisan mana yang benar dalam Islam dan bahasa Indonesia kata "ALLAH" atau kata "ALLOH"..
Tapi sebelum kita membahas lebih lanjut tentang mana yang benar antara penulisan “Allah” atau “Alloh”…? tersebut, terlebih dahulu kami coba untuk mengawali dengan menyajikan beberapa kutipan dari pendapat berikut ini:

Penulisan Allah atau Alloh yang benar


Sebagian muslim tidak mau menulis “Allah”, sebab katanya seperti tulisan yang dipakai  oleh orang Nashrani. Maka mereka menulis “Alloh” (dengan memakai huruf “o”) untuk membedakan dari Nashrani.
Read more »

Senin, 04 Januari 2016

Beberapa Gelar Sarjana dan Cara Penulisan yang Benar Menurut EYD

Sahabat Al Falah




Berdasarkan aturan kebahasaan, penulisan gelar termasuk kategori pemahaman tentang singkatan. Singkatan adalah kependekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Selain itu, dalam buku pedoman umum ejaan yang disempurnakan (EYD), penulisan gelar juga secara intens disinggung, bahkan disertai beberapa contoh penulisan yang benar. Namun demikian, masyarakat masih saja banyak yang belum memahami dengan baik teknik penulisan gelar yang benar. Kendati hanya persoalan kecil, tetapi kebanyakan orang tidak memahami cara penulisan gelar yang benar. Penulisan gelar sejatinya tidaklah sesulit yang dibayangkan, tetapi juga tidak segampang yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang.
Read more »

Sabtu, 26 Desember 2015

Arti dan Falsafah yang Terkandung dalam Lagu ILIR-ILIR






Bismillahirrahmanirrahiim,



LIR ILIR / ILIR-ILIR


Tembang Dzikir ciptaan Sunan Kalijaga


Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar
Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno, kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
Yo surak-o… surak hiyo…


Arti tembang lir ilir dalam bahasa Indonesia:


Sayup-sayup, Sayup-sayup bangun (dari tidur).
Tanaman-tanaman sudah mulai bersemi, demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru.
Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu, walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian.
Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan.
Jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore.
Selagi sedang terang rembulannya.
Selagi sedang banyak waktu luang.
Mari bersorak-sorak ayo...



FALSAFAH DAN MAKNA TEMBANG LIR ILIR

.
Ayo bangkit Islam telah lahir.
Hijau sebagai simbol agama Islam kemunculannya begitu menarik ibarat pengantin baru.
Pemimpin yang mengembala rakyat kenalah Islam sebagai agamamu.
Ia ibarat belimbing dengan 5 sisi sebagai 5 rukun Islam.
Meskipun sulit dan banyak rintangan sebarkanlah ke masyarakat dan anutlah.
Guna untuk mensucikan diri dari segala dosa dan mensucikan aqidah.
Terapkanlah Islam secara kaffah sampai ke rakyat kecil (pinggiran).
Perbaikilah apa yang telah menyimpang dari ajaran Islam untuk dirimu dan orang lain guna bekal kamu di akhirat kelak.
Mumpung masih hidup dan selagi masih diberikan kesempatan untuk bertobat.
Dan berbahagialah semoga selalu dirahmati Allah.



Wallahu a'lam..







Memahami Bidah dan Mauludan melalui Obrolan Santai

Senin, 30 November 2015

Konsep Pendidikan Akhlak menurut Imam Ghozali







Bismillahirrahmanirrahiim,



Sahabat Al Falah,




Tulisan ini merupakan hasil kliping dari artikel-artikel maupun buku yang membahas mengenai pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan. Silahkan untuk disimak :

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Pendahuluan 


Pendidikan akhlak sebagaimana dirumuskan oleh Ibn Miskawaih (Nata, 2003), merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Dalam pendidikan akhlak ini, kriteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang muncul merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunah sebagai sumber tertinggi dalam ajaran Islam. Dengan demikian maka pendidikan akhlak dapat dikatakan sebagai pendidikan moral dalam diskursus pendidikan Islam. Telaah lebih dalam terhadap konsep akhlak yang telah dirumuskan oleh para tokoh pendidikan Islam masa lalu seperti Ibnu Miskawaih, al-Qabisi, Ibn Sina, al-Ghazali dan alZarnuji, menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku anak didik. Karakter positif ini tiada lain adalah penjelmaan sifat-sifat mulia Tuhan dalam kehidupan manusia. Namun demikian dalam implementasinya, pendidikan akhlak yang dimaksud memang masih tetap cenderung pada pengajaran benar dan salah seperti halnya pendidikan moral. Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia dengan pendidikan akhlak sebagai trade-mark di satu sisi, dan menjamurnya tingkat kenakalan perilaku amoral remaja di sisi lain menjadi bukti kuat bahwa pendidikan akhlak dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam sepertinya masih belum optimal. 

Pandangan Al-Ghazali sebagai salah satu tokoh pendidikan Islam dianggap sangat menarik untuk diangkat karena dalam ruang-ruang kuliah studi Islam selama ini diajarkan bahwa al-Ghazali adalah biang keladi kemunduran umat Islam, seperti banyak terdapat pada sebagian referensi tentang al-Ghazali (Husaini, 2007). Boleh jadi pada sebagian pemikiran al-Ghazali terdapat kekeliruan, namun tidaklah adil jika hal itu kemudian menjadi dasar untuk menyudutkan al-Ghazali karena ia juga berandil dalam menginspirasi kemajuan umat Islam. 

Pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral dengan pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik. Sebagaimana rumusannya tentang akhlak sebagai sifat yang mengakar dalam hati yang mendorong munculnya perbuatan tanpa pertimbangan dan pemikiran, sehingga sifat yang seperti itulah yang telah mewujud menjadi karakter seseorang. Konsep pendidikan ini erat sekali hubungannya dengan tujuan pendidikan untuk membentuk karakter positif dalam perilaku anak didik dimana karakter positif ini tiada lain adalah penjelmaan sifat-sifat mulia Tuhan dalam kehidupan manusia.

Riwayat Hidup Al-Ghazali

Al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 H (1058 M) di desa Thus wilayah Khurasan yang sekarang termasuk wilayah Iran. Al-Ghazali memulai pendidikan dasarnya dengan belajar agama pada seorang ustadz setempat, Ahmad bin Muhammad Razkafi. Selanjutnya ia menjadi santri Abu Nashr al-Isma’il di Jurjan dan lalu belajar ilmu kalam, ilmu ushul, madzab figh, retorika, logika, tasawuf, dan filsafat pada al-Juwainy. Keunggulan ilmu al-Ghazali membuatnya menjadi sangat tersohor sehingga pada tahun 484 H (1091 M), ia diangkat menjadi ustadz (dosen) pada Universitas Nidhamiyah di Baghdad. Setahun setelah ia berusia 34 tahun, al-Ghazali diangkat menjadi pimpinan (rektor) pada universitas tersebut karena prestasinya yang begitu luar biasa. Selama menjadi rektor, al-Ghazali banyak menulis buku di bidang fiqh, ilmu kalam, dan buku-buku sanggahan terhadap aliran-aliran kebatinan, Ismailiyah, dan filsafat. Setelah 4 tahun menjadi rektor di universitas tersebut, ia mengalami krisis keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma’rifat. Kemudian ia melanglang buana antara Syam, Baitul Maqdis, dan Hijaz selama kurang lebih 10 tahun dan menghabiskan waktunya untuk khalwat, ibadah, i’tikaf, dan menjalankan ibadah haji serta berziarah ke makam nabinabi. Setelah dibujuk untuk kembali mengajar di universitasnya, akhirnya al-Ghazali kembali menjadi dosen pada tahun 499 H (1106 M). Tetapi, tidak lama setelah itu, ia kembali ke tempat asalnya di desa Thus dan menghabiskan sisa umurnya untuk membaca alQur’an dan hadist serta mengajar. Di samping rumahnya, al-Ghazali mendirikan madrasah untuk para santri yang mengaji dan sebagai tempat berkhalwat bagi para sufi. Al-Ghazali menutup usianya pada tahun 505 H (1111 M) yaitu pada usia 55 tahun.

Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan 

Dalam memahami pemikiran al-Ghazali, tentunya harus dilakukan banyak kajian terhadap literatur yang mengupas riwayat hidupnya maupun karya-karyanya yang sangat monumental dalam berbagai disiplin ilmu. Berkaitan dengan profesinya sebagai pemikir, al-Ghazali telah mengkaji secara mendalam dan kronologis minimal empat disiplin ilmu sehingga ia menjadi ahli ilmu kalam atau teolog, filosof, seorang sufi karena ilmu tasawufnya, dan juga seorang yang anti ilmu kebatinan. 

Pandangan al-Ghazali yang sangat terkenal adalah pandangannya tentang hakekat manusia, yang berlandaskan pada esensi manusia yaitu jiwanya yang bersifat kekal dan tidak hancur. Ada empat istilah yang sangat populer dikemukakan oleh al-Ghazali dalam pembahasannya yang begitu mendalam tentang esensi manusia, yaitu tentang hati (qalb), ruh, jiwa (nafs), dan akal (aql). 

Mengenai tujuan hidup manusia, al-Ghazali menyatakan bahwa: “Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunia. Dan agama tidak terorganisasikan selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepada Allah bagi orang yang mau memperbuatnya menjadi tempat tetap dan tanah air abadi.” 

Dari pernyataannya dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki dua tujuan hidup. Yang pertama adalah sebagai wakil Allah di dunia untuk melaksanakan kehendakNya atau tujuan duniawi. Yang kedua adalah tujuan akhirat, yaitu mendapatkan kenikmatan surgawi yang berpuncak saat manusia dapat bertemu Penciptanya. 

Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, alGhazali banyak mencurahkan perhatiannya. Analisisnya terhadap esensi manusia mendasari pemikirannya pada kedua bidang ini. Menurut al-Ghazali, manusia dapat memperoleh derajat atau kedudukan yang paling terhormat di antara sekian banyak makhluk di permukaan bumi dan langit karena ilmu dan amalnya. Sesuai dengan pandangan al-Ghazali terhadap manusia dan amaliahnya, yaitu bahwa yang amaliah itu tidak akan muncul dan kemunculannya hanya akan bermakna kecuali setelah ada pengetahuan. Sehingga wajar bila dalam karyanya yang sangat monumental, Ihya Ulumiddin, al-Ghazali mengupas ilmu pengetahuan secara panjang lebar dalam sebuah bab tersendiri, Kitabul Ilmi. Dalam pembahasannya tentang ilmu, alGhazali menggambarkannya dalam tatanan sosial masyarakat, dalam artian bahwa sebuah ilmu atau profesi tertentu diperlukan untuk melaksanakan kegiatan- kegiatan yang diwajibkan dalam tatanan tersebut. Secara terperinci, ia menggunakan pendekatan epistemologi, ontologi, dan aksiologi. 

Ditilik dari Ihya Ulumiddin bab pertama, alGhazali adalah penganut kesetaraan dalam dunia pendidikan, ia tidak membedakan kelamin penuntut ilmu, juga tidak pula dari golongan mana ia berada, selama dia islam maka hukumnya wajib. Tidak terkecuali siapapun. Ia juga termasuk penganut konsep pendidikan tabula rasa (kertas putih) dan pendidikan bisa mewarnainya dengan hal-hal yang benar.

Pengertian Pendidikan 

Sekalipun Ihya Ulumiddin dianggap sebagai kitab intisari pemikiran al-Ghazali yang paling komplit, pengertian pendidikan masih belum dirumuskan secara jelas karena pembahasannya memang belum sampai pada tahap tersebut. Tetapi walaupun demikian, pengertian pendidikan menurut al-Ghazali dapat ditelusuri dari pernyataan-pernyataan yang diungkapkan melalui karyanya sebagaimana kutipan berikut:

  1. “Sesungguhnya hasil ilmu itu ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat dan berhampiran dengan malaikat tinggi.”
  2. “Dan ini, sesungguhnya adalah dengan ilmu yang berkembang melalui pengajaran dan bukan ilmu yang beku yang tidak berkembang.” 

Pada kutipan pertama, kata ‘hasil’ menggambarkan proses, kata ‘mendekatkan diri kepada Allah’ menunjukkan tujuan, dan kata ‘ilmu’ menunjukkan alat. Sedangkan pada kutipan kedua dijelaskan perihal sarana penyampaian ilmu yaitu melalui pengajaran. 

Mengenai keberlangsungan proses pendidikan, al-Ghazali menerangkan bahwa batas awal berlangsungnya pendidikan adalah sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Adapun mengenai batas akhir pendidikan adalah tidak ada karena selama hayatnya manusia dituntut untuk melibatkan diri dalam pendidikan sehingga menjadi insan kamil. Ditambahkan pula bahwa pendidikan dapat dipahami sebagai satu-satunya jalan untuk menyebarluaskan keutamaan, mengangkat harkat dan martabat manusia, dan menanamkan nilai kemanusiaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemakmuran dan kejayaan suatu bangsa sangat bergantung pada sejauhmana keberhasilan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Selain itu, pengajaran dan pendidikan harus dilaksanakan secara bertahap, disesuaikan dengan perkembangan psikis dan fisik anak. 

Dari berbagai hadist yang dikutip oleh al-Ghazali dalam bukunya dan juga beberapa pernyataannya tentang pendidikan dan pengajaran, dapat dirumuskan sebuah pengertian tentang pendidikan oleh al-Ghazali yaitu “proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna”.

Tujuan Pendidikan 

Menurut al-Ghazali, pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah kepada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sehingga tujuan pendidikan dirumuskan sebagai pendekatan diri kepada Allah, yaitu untuk membentuk manusia yang shalih, yang mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kewajiban-kewajibannya kepada manusia sebagai hambaNya. 

Tujuan pendidikan jangka panjang yang dirumuskan sebagai pendekatan diri kepada Allah, dapat dicapai dengan melaksanakan ibadah wajib dan sunnah serta mengkaji ilmu-ilmu fardhu ‘ain seperti ilmu syariah. Sementara, orang-orang yang hanya menekuni ilmu fardhu kifayat sehingga memperoleh profesi-profesi tertentu dan akhirnya mampu melaksanakan tugas-tugas keduniaan dengan hasil yang optimal sekalipun, tetapi tidak disertai dengan hidayah al-din, maka orang tersebut tidak akan semakin dekat dengan Allah. 

Tujuan pendidikan jangka pendek menurut alGhazali adalah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya dengan mengembangkan ilmu pengetahuan yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayat. Masalah kemuliaan duniawi bukanlah tujuan dasar dari seseorang yang melibatkan diri dalam dunia pendidikan. Seorang penuntut ilmu seperti siswa, mahasiswa, guru, atau dosen, akan memperoleh derajat, pangkat, dan segala macam kemuliaan lain yang berupa pujian, kepopularitasan, dan sanjungan manakala ia benar-benar mempunyai motivasi hendak meningkatkan kualitas dirinya melalui ilmu pengetahuan untuk diamalkan. Sebab itulah, al-Ghazali menegaskan bahwa langkah awal seseorang dalam proses pembelajaran adalah untuk menyucikan jiwa dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela, dan motivasi pertama adalah untuk menghidupkan syariat dan misi Rasulullah.

Subyek Didik 

Dalam pembahasan mengenai pendidikan, manusia yang bergantung disebut murid dan yang menjadi tempat bergantung disebut guru, sehingga keduanya disebut sebagai subyek didik. Al-Ghazali sangat mengagungkan posisi guru diatas segalanya sebagaimana ungkapannya bahwa hak guru atas muridnya lebih agung dibandingkan hak orang tua atas anaknya karena orang tua hanya penyebab keberadaan anaknya di alam fana dan guru lah penyebab hidupnya yang kekal. Ia juga menambahkan bahwa makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia, sedangkan yang paling mulia penampilannya ialah kalbunya, guru atau pengajar selalu menyempurnakan, mengagungkan, dan menyucikan kalbu itu serta menuntunnya untuk dekat kepada Allah. 

Berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab guru profesional, al-Ghazali menyebutkan beberapa hal sebagai berikut: 
  1. Guru adalah orang tua kedua bagi murid
  2. Guru adalah pewaris ilmu nabi 
  3. Guru adalah penunjuk jalan dan pembimbing keagamaan murid 
  4. Guru adalah sentral figur bagi murid 
  5. Guru adalah motivator bagi murid 
  6. Guru adalah seseorang yang memahami tingkat perkembangan intelektual murid 
  7. Guru sebagai teladan bagi murid 

Selanjutnya, al-Ghazali menguraikan hal-hal yang harus dipenuhi murid dalam proses belajar mengajar sebagaimana berikut: 
  1. Belajar merupakan proses jiwa 
  2. Belajar menuntut konsentrasi 
  3. Belajar harus didasari sikap tawadhuk 
  4. Belajar bertukar pendapat hendaklah telah mantap pengetahuan dasarnya 
  5. Belajar harus mengetahui nilai dan tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajari 
  6. Belajar secara bertahap 
  7. Belajar tujuannya adalah untuk berakhlakul karimah


Etika Belajar 

Dalam hal etika belajar, al-Ghazali menjelaskan ada 10 hal yang harus dilakukan oleh seorang pelajar yaitu:
  • Pertama, membersihkan jiwa dari kejelekan akhlak, dan keburukan sifat karena ilmu itu adalah ibadahnya hati, shalat secara samar dan kedekatan batin dengan Allah.
  • Kedua, menyedikitkan hubungannya dengan sanak keluarga dari hal keduniawian dan menjauhi keluarga serta kampung halamannya. Hal ini menurut al-Ghazali agar seorang pelajar bisa konsentrasi dalam apa yang menjadi fokusnya.
  • Ketiga, tidak sombong terhadap ilmu dan pula menjauhi tindakan tidak terpuji terhadap guru. Bahkan menurut alGhazali seorang pelajar haruslah menyearhkan segala urusannya pada sang guru seperti layaknya seorang pasien yang menyerahkan segala urusannya pada dokter.
  • Keempat, menjaga diri dari mendengarkan perselisihan yang terjadi diantara manusia, karena hal itu dapat menyebabkan kebingungan, dan kebingungan pada tahap selanjutnya dapat menyebabkan pada kemalasan.
  • Kelima, tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga selesai dan mengetahui hakikatnya. Karena keberuntungan melakukan sesuatu itu adalah menyelami (tabahhur) dalam sesuatu yang dikerjakannya.
  • Keenam, janganlah mengkhususkan pada satu macam ilmu kecuali untuk tertib belajar.
  • Ketujuh, janga terburu-buru atau tergesa-gesa kecuali kita telah menguasai ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah sistematik, satu bagian saling terkait dengan bagian yang lainnya.
  • Kedelapan, harus mengetahui sebab-sebab lebih mulianya suatu disiplin ilmu dari pada yang lainnya. Seorang murid terlebih dahulu harus mengkomparasikan akan pilihan prioritas ilmu yang akan dipelajari.
  • Kesembilan, pelurusan tujuan pendidikan hanya karena Allah dan bukan karena harta dan lain sebagainya.
  • Kesepuluh,harus mengetahui mana dari suatu disiplin ilmu yang lebih penting (yu’atsar al-rafi’ al-qarib ‘ala alba’id)


Etika Mengajar 

Dalam hal etika mengajar, al-Ghazali mengungkapkan bahwa ada 8 hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru, sebagaimana berikut:
  • Pertama, memperlakukan para murid dengan kasih sayang seperti anaknya sendiri.
  • Kedua, mengikuti teladan Rasul, tidak mengharap upah, balasan ataupun ucapan terima kasih (ikhlas).
  • Ketiga, jangan lupa menasehati murid tentang hal-hal yang baik.
  • Keempat, jangan lupa menasehati murid dan mencegahnya dari akhlak tercela, tidak secara terangterangan tapi hendaknya gunakan sindiran. Jangan lupa untuk mengerjakannya terlebih dahulu karena pendidikan dengan sikap dan perbuatan jauh lebih efektif daripada perkataan
  • Kelima, jangan menghina disiplin ilmu lain.
  • Keenam, terangkanlah dengan kadar kemampuan akal murid. (Hal inilah yang dibut dalam balaghah sebagai kefashihan).
  • Ketujuh, hendaknya seorang guru harus mengajar muridnya yang pemula dengan pelajaran yang simpel dan mudah dipahami, karena jika pelajarannya terlalu muluk-muluk maka hal tersebut akan membuat murid merasa minder dan tidak percaya diri.
  • Kedelapan, seorang guru harus menjadi orang yang mengamalkan ilmunya.


Kurikulum Pendidikan 

Dalam menguraikan pengertian kurikulum menurut al-Ghazali, ada dua hal yang sangat menarik yaitu klasifikasinya terhadap ilmu pengetahuan dengan sangat terperinci sebagaimana skema yang telah digambarkan pada halaman sebelumnya, dan pemikirannya tentang manusia berikut segala potensi yang dimilikinya sejak ia dilahirkan. Ditambahkan olehnya bahwa kurikulum pendidikan harus disusun dan selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikisnya, sehingga pelajaran harus disampaikan secara bertahap dengan memperhatikan teori, hukum, dan periodisasi perkembangan anak. Pentahapan dalam kurikulum yang dilakukan olehnya, sangat sesuai dengan proses pendidikan anak yang diajarkan oleh nabi Muhammad seperti diriwayatkan melalui hadist. Jika dijabarkan, perkembangan usia anak berdasarkan didaktis menurut Rasulullah adalah: 
  1. Usia 0-6 tahun 
  2. Usia 6-9 tahun 
  3. Usia 9-13 tahun 
  4. Usia 13-16 tahun 
  5. Usia 16 tahun dan seterusnya 
Implikasi dari hadist tersebut, pertama yaitu bahwa usia 16 adalah batas minimal bagi orang tua untuk mendidik dan membimbing anaknya agar dapat mandiri; kedua, anak pada hakekatnya sudah dapat dilepas oleh orang tua sehingga tidak boleh lagi menggantungkan diri pada orang tua untuk menghidupi kehidupannya sendiri.

Metode PendidikanMenurut Al-Ghazali

Pentahapan dalam kurikulum pendidikan telah melahirkan pada penekanan metodik khusus pendidikan menurut al-Ghazali. Dan tampak sekali bahwa al-Ghazali juga melakukan penekanan pada pendidikan agama dan akhlak. 

Berikut ini adalah metodik khusus pendidikan menurut al-Ghazali: 
  • Metodik khusus pendidikan agama 
  • Metodik khusus pendidikan akhlak


Evaluasi Pendidikan 

Dalam bahasa Arab, kata yang paling dekat dengan kata evaluasi adalah muhasabah, yang berarti menghitung atau memperkirakan. Al-Ghazali menggunakan kata tersebut dalam menjelaskan tentang evaluasi diri setelah melakukan aktivitas. Surat al-Hasyr ayat 18 dijadikan landasan berpijak oleh al-Ghazali dalam menguraikan tentang evaluasi diri, sebagaimana dikutip dalam karyanya. Sehingga dapat dirumuskan bahwa pengertian evaluasi adalah suatu usaha memikirkan, memperkirakan, membandingkan, menimbang, mengukur, dan menghitung aktivitas diri dan orang lain yang telah dikerjakan terkait dengan tujuan yang telah dicanangkan untuk meningkatkan usaha dan aktivitas menuju tujuan yang lebih baik di waktu mendatang. Subyek evaluasi yang terlibat dalam proses kependidikan tersebut dapat meliputi pimpinan lembaga, subyek didik, wali murid, dan tenaga administrasi. 

Tujuan evaluasi secara umum, sebagaimana kutipan sabda Nabi yang dikutip oleh al-Ghazali, adalah sebagai berikut: 

“Jika kau telah merencanakan suatu pekerjaan atau suatu program kerja, maka pikirkanlah akibat atau hasil akhirnya. Jika kemungkinan benar (menguntungkan) maka teruskan, tapi jika kemungkinan sesat (merugikan) maka hentikan rencana itu.” 

Sehingga tujuan dari evaluasi pendidikan dapat dirumuskan sebagai suatu upaya untuk mengontrol efektivitas dan efisiensi usaha dan sarana; mengetahui segi-segi yang mendukung dan menghambat jalannya proses kependidikan menuju tujuan. Segi-segi yang mendukung dikembangkan, dan segi-segi yang menghambat diperbaiki atau diganti dengan usaha atau sarana lain yang lebih menguntungkan. 

Sebagaimana sabda Nabi yang dikutip oleh alGhazali berikut ini, bahwa aktivitas kependidikan dalam satuan waktu yang telah ditentukan secara periodik, seperempat dari satuan waktu tersebut digunakan untuk mengadakan evaluasi:

“Seyogyanya bagi orang yang berakal mempunyai empat bagian waktu, dan satu bagian waktu darinya digunakan untuk mengevaluasi dirinya.”


Pendekatan Pendidikan Al-Ghazali 

Al-Ghazali menjelaskan bagaimana seorang pelajar harus bersikap terhadap ilmu dan gurunya. Ia mengemukan metode belajar dan metode mengajar. Dan apa yang telah dikemukakan al-Ghazali tersebut adalah lebih moderat ketimbang apa yang kemudian diterjemahkan ulang dan banyak penambahan di sana sini oleh pengagumnya yang bernama al-Zarnuji yang lebih berorientasi pada etika murid pada dunia tasawuf dan tarekat. 

Penjelasan al-Ghazali juga menyinggung metode pengajaran keteladanan dan kognitifistik. Selain itu ia juga memakai pendekatan behavioristik sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan yang dijalankan. Hal ini tampak dalam pandangannya yang menyatakan jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan. Tetapi bentuk pengapresiasian gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward and punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi. Al-Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya. 

Disamping pendekatan behavioristik diatas, alGhazali juga mengelaborasi dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan mengahrgai mereka sebagai manusia. Bahasa alGhazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri. Dengan ungkapan seperti ini tentu alGhazali menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru. 

Dalam pandangan al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata suatu proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang berlainan. Tetapi lebih dari itu, yaitu sebuah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara guru dan murid dalam tataran yang relatif sama, yang pertama mendapatkan jasa karena memberikan pendidikan dan yang terakhir mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan. 

Tetapi hal yang paling nampak dalam kacamata al-Ghazali tentang pendidikan adalah bagaimana ia membangun karakter pendidikan, ia sangat konsisten dalam masalah etika pendidikan. Pembahasan masalah ahklak atau etika tidak saja tampak dalam Ihya Ulmuddin tapi juga di Ayyuha al-Walad , Mizan alAmal dan Bidayah al-hidayah. Dalam kitab yang terkhir ini persinggungan al-Ghazali dengan tasawuf sangat kental sekali. Yang menarik dalam semua kitab ini alGhazali menggunakan gaya narasi untuk mengungkapkan pemikirannya. Bahkan semenjak Tahafut al-Falasifah, ia tak segan menggunakan kata pengganti pertama berupa ‘aku’ atau ‘kita’. Malah dalam Ayyuha al-Walad, al-Ghazali menggunakan kata pengganti ‘engkau’ untuk menyapa pembacanya. Gaya penyusunan seperti ini kemudian banyak diadopsi oleh para pendidik sesudahnya termasuk oleh Umar Baradja dalam kitab Akhlaq lil Banin dan Ahklaq lil Banat. Mungkin inilah metode yang terbaik menurut al-Ghazali tentang proses belajar dan mengajar.


Penutup 

Al-Ghazali yang berorientasi humanistik spiritual ini dapat dipandang sebagai tokoh pendidikan yang 6 abad lebih awal daripada Johan Benhard Basedow (tokoh philanthropinisme), John Locke dan Francis Bacon (tokoh empiris), Shcopenhauer (tokoh nativis), William dan Clora Stern (tokoh konvergensi), serta tokoh pendidikan dan psikolog dari Barat lainnya. Ia dianggap sebagai guru yang benar-benar berkepribadian guru; tokoh nativis yang tidak pesimis terhadap keberhasilan pendidikan, tokoh empiris yang tetap menaruh perhatian besar terhadap pembawaan. Walaupun demikian, konsep kepribadian ideal alGhazali lebih cenderung menghasilkan pendidikan yang beraliran konvergensi, meskipun ketiga aliran tersebut juga dapat terlihat dari pemikiran-pemikirannya.





SUMBER PUSTAKA:
Husaini, Adian. (2007). Ulama Di Buku Pelajaran. Harian Republika,Jumat, 21 Desember 2007.

Ilyas, R. Marpu Muhidin. (2007). Pendidikan Karakter: Isu dan Prioritas yang Terabaikan. Tugas Akhir Mata Kuliah Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Islam. Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ilyas, R. Marpu Muhidin. (2007). Konsep Kepribadian Menurut Al-Ghazali dan Erich Fromm: Analisa Teori Kepribadian Timur dan Barat (Sebuah Pendekatan Psikologis). Critical Review Thesis. Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Maulana, Ihsan. (2007). Pendidikan Dalam Kacamata Al-Ghazali.

Nata, Abudin. (2003). Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rusn, Abidin Ibnu. (1998). Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



Akhirnya, semoga tulisan di atas dapat memberikan pencerahan dan bermanfaat bagi semua pihak yang terkait.



Salam Persahabatan










Untuk lebih mempererat ukhuwwah serta saling berbagi informasi terkait dunia pendidikan, silahkan kunjungi dan gabung grup facebook kami di SINI.

Dan untuk mendapatkan informasi yang terbaru dan terupdate, silahkan like and share halaman facebook kami di SINI